Mengembalikan Tradisi Juara Umum SEAGAMES Melalui Peningkatan Prestasi Atletik
Kang Kombor sangat jengkel ketika mendengar bahwa di SEAGAMES 2007 Thailand yang akan datang ini Indonesia hanya menargetkan masuk 4 besar, Presiden SBY minta Indonesia dapat 3 besar. Sebagai negara terbesar di kawasan Asia Tenggara ini seharusnya kita selalu menargetkan menjadi juara umum. Kalau zaman Soeharto dulu kita bisa juara umum mengapa di zaman reformasi ini di mana seharusnya seluruh kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi lebih baik lagi kita hanya berani menargetkan masuk 4 besar? Sungguh bangsa gembus! Apakah Sampeyan tahu apa itu gembus? Gembus adalah makanan yang dibuat dari ampas tahu.
Pasti ada yang salah dengan cara pemerintah mengurusi olah raga di Indonesia ini sehingga makin hari prestasi Indonesia di bidang olah raga makin menurun ketika negara-negara lain prestasinya semakin bagus. Kang Kombor punya sedikit pendapat mengenai hal ini. Kang Kombor hanya akan batasi pada atletik saja.
Mengapa atletik?
Atletik adalah induk olah raga. Di setiap event baik nasional, regional maupun internasional, jumlah medali yang diperebutkan untuk atletik ini sangat banyak. Bisa dikatakan sebagian besar medali diperebutkan di cabang olah raga ini. Sayangnya, prestasi kita dalam bidang ini sepertinya semakin menurun. Kita dulu punya pelari kebanggaan, yaitu Mardi Lestari. Jujur, hanya itu yang Kang Kombor ingat. Kalau pelempar lembing, pelontar peluru, peloncat jauh, pelompat tinggi, pelempar cakram, pelempar martil, Kang Kombor tidak tahu.
Perhatian pada atletik perlu ditingkatkan
Karena atletik ini merupakan induk olah raga, mestinya perhatian ke cabang olah raga ini ditingkatkan. Entah Kang kombor yang salah tangkap atau bagaimana, sepertinya kita ini kurang memperhatikan atletik. Klub atletik tidak banyak, kalah sama klub sepakbola yang dimulai dari tingkat RT sudah ada. Padahal, beberapa cabang atletik tidak memerlukan peralatan yang mahal. Untuk lari dan jalan cepat hanya dibutuhkan lintasan dan sepatu lari. Untuk lari dengan halangan tinggal dibikinkan palang. Untuk lompat jauh tinggal dibikinkan bak pasir dan lintasan untuk ancang-ancang. Cabang atletik yang lain juga sepertinya begitu. Sarana dan prasarana atletik dapat dipergunakan secara beramai-ramai. Kecuali sepatunya, mungkin.
Akan tetapi, marilah kita tengok di sekitar kita. Adakah sebuah kelurahan yang memiliki sebuah lapangan yang lengkap dengan lintasan lari, area untuk lompat tinggi, area untuk loncat jauh? Lempar lembing, lontar martil, tolak peluru bisa dilakukan di lapangan. Memang akan lebih baik kalau disediakan arena untuk masing-masing cabang atletik. Adakah sebuah arena atletik terpadu pada tingkat kelurahan? Kalau tidak ada, marilah kita naik ke tingkat kecamatan. Adakah? Naik lagi ke tingkat kabupaten. Adakah?
Di atas itu adalah sarana atletik yang disediakan pemerintah. Mari kita tengok di tingkat sekolah. Kita mulai saja dari tingkat SMP. Adakah sebuah SMP Negeri yang memiliki sarana lengkap untuk atletik? Mungkin ada tetapi hanya beberapa. SMP Kang Kombor dulu, SMP1 Sleman memiliki sebuah lapangan sepak bola, sebuah bak pasir untuk lompat tinggi dan lompat jauh. Ada sebuah lapangan basket, dua buah lapangan voli, dua buah lapangan bulu tangkis. Lintasan lari untuk lari 100m, 200m, 400m dan seterusnya tidak ada. Okelah, itu di SMP. Mari kita naik ke tingkat SMA. Apakah ada SMA Negeri yang memiliki sarana atletik yang lengkap? Di sebelah SMP1 Sleman ada SMA1 Sleman. Lebih celaka lagi SMA1 Sleman ini karena hanya memiliki sebuah lapangan voli dan sebuah lapangan basket. Yang beruntung adalah SMA Taruna Nusantara karena memiliki sebuah lapangan bola yang dikelilingi oleh lintasan lari 400m. Area untuk lompat tinggi dan lompat jauh juga ada.
Menteri Pemuda dan Olahraga mestinya memperhatikan masalah ini dengan serius. Pemerintah Daerah juga harus mau menyediakan arena atletik yang bisa dipergunakan oleh rakyat. Sekolah-sekolah sudah seharusnya menyediakan sarana-sarana olah raga yang lengkap agar para siswa bisa menyalurkan kegiatannya di bidang olah raga, bukan di bidang beladiri melalui acara tawuran seperti yang sering dilakukan pelajar-pelajar ibukota.
Berikan Kehormatan Kepada Peraih Prestasi Atletik
Dari hasil nonton film-film Amerika bertema remaja Kang Kombor mendapatkan sebuah masukan bahwa di sana pemilik prestasi atletik terutama lari 100m menjadi idola para gadis dan diberi penghargaan yang cukup oleh pihak sekolah. Di Indonesia, nampaknya hanya ranking akademik saja yang dipentingkan. Pemilik prestasi di bidang olah raga yang mengharumkan nama sekolah terkadang terhapus apabila yang bersangkutan terpuruk di bidang akademik. Atletik tidak mendapat perhatian yang baik di sekolah-sekolah. Kita bisa melihatnya dari acara-acara class meeting yang dilakukan setelah selesai ujian kenaikan kelas. Hanya olah raga-olah raga permainan seperti sepak bola, bola voli dan basket plus bulu tangkis dan tenis meja saja yang dipertandingkan. Jarang kita lihat ada lomba lari 100m, lari 200m, lari 400m, lompat jauh, lompat tinggi, tolak peluru, lontar martil, lempar lembing atau jalan cepat.
Sekolah-sekolah tidak mengembangkan tradisi untuk memberi penghargaan kepada peraih prestasi bidang atletik. Apakah mereka disibukkan dengan Ujian Nasional? Ah, sepertinya tidak juga. Sebelum ada Ujian Nasional pun mereka tidak pernah memiliki tradisi ini.
Klub Atletik Sangat Sedikit
Berbeda dengan klub sepak bola, bola voli, basket, bulu tangkis atau klub sepeda motor, klub atletik jumlahnya sangat sedikit. Mungkin di sebuah wilayah setingkat kabupaten/kota hanya ada satu karena di tingkat itu ada PASI tingkat kabupaten/kota. Kejuaraan-kejuaraan atletik juga kalah pamor dari liga sepakbola. Memang atletik tidak bisa dijadikan industri seperti sepakbola. Akan tetapi, pada event olah raga internasional, atletik bisa memberikan sumbangan medali yang sangat banyak kepada negara.
Mari kita benahi atletik di Indonesia
Marilah kita benahi atletik di Indonesia. Berikan perhatian lebih tinggi pada cabang olah raga ini. Kita boleh tidak memiliki klub sepakbola yang bisa berlaga di Asian Games karena tidak lolos kualifikasi. Akan tetapi, kita tidak boleh tidak punya wakil di cabang atletik. Kita pasti mengirimkan wakil pada cabang ini. Prestasilah yang perlu ditingkatkan.
Untuk membenahi prestasi itu, Kang Kombor memberikan pe-er kepada Menteri Pemuda dan Olah Raga. Boleh dong warga negara memberi pe-er kepada menterinya! Kang Kombor memberi pe-er kepada KONI. Terlebih, Kang Kombor memberi pe-er kepada PASI. Kang Kombor kira, apabila menpora, KONI dan PASI bisa memberikan inovasi-inovasi untuk memajukan atletik, membuat program-program yang bagus dan disosialisasikan dengan baik maka masyarakat akan mendukung.
Kepada Menteri Pendidikan Kang Kombor memberi pe-er agar membangun sarana olah raga yang memadai di sekolah-sekolah. Sarana untuk atletik wajib ada. Kalau tidak ada, kerjasama dengan Departemen Dalam Negeri agar memerintahkan kepada setiap Pemprov agar Pemkab dan Pemkot membangun sebuah sarana olahraga terpadu minimal di tingkat Kecamatan. Idealnya di setiap kelurahan harus ada.
Kepada sekolah-sekolah, berikanlah penghargaan yang tinggi kepada peraih prestasi atletik. Elu-elukan para juara di cabang atletik dan pajang foto-foto mereka di ruang pamer sekolah (kalau ada ruang pamer).
Kepada pemilik klub atletik, pertahankan klub yang ada. Jangan putus asa menjaring bibit-bibit unggul di bidang ini. Terapkan metode-metode pelatihan yang diterapkan di negara-negara yang prestasi atletiknya bagus.
Kepada seluruh masyarakat, apabila pemerintah melalui Menpora, KONI dan PASI memiliki program yang bagus, marilah kita dukung dengan sepenuh hati. Ajarkan kepada anak-anak kita untuk mau berprestasi di bidang atletik agar bisa mengharumkan nama bangsa. Memang untuk mengharumkan nama bangsa bukan melalui atletik saja. Hal itu juga bisa dilakukan melalui bidang lain seperti olimpiade matematika, fisika, kimia, dan biologi atau ngeblog.
Percayalah bahwa medali untuk cabang atletik sangat banyak diperebutkan. Apabila kita bisa memperbaiki prestasi di bidang atletik ini, kita tidak akan miskin medali.
Masa sih, negara terbesar di Asia Tenggara hanya berani jadi nomer empat atau nomer tiga? Memalukan sekali!
Pada Sea Games-24 nanti akan dipertandingkan 38 cabang olah raga yang dibagi dalam tiga kategori.
Kategori I Atletik dan Renang.
Kategori II, Panahan, Bola Basket, Bulutangkis, Biliar & Snooker, boling, Tinju, Canoeing, Rowing, Balap Sepeda, Equestrian & Polo, Anggar, Sepakbola & Futsal, Golf, Senam, hand ball, Hoki, Judo, Karate, Rugby, Sailing, Sepak takraw, Menembak, Tenis Meja, Tenis lapangan, Taekwondo, Triathlon, bolavoli, Angkat besi, Gulat dan Wushu.
Kategori III, Muay, Petanque, Pencak Silat, Dance Sport, Lawn Ball, Binaraga, Traditional Boat race dan Kempo (Eksebisi).
Sumber: NAD.go.id



Negara lain memberi penghargaan yg sangat tinggi untuk atlet2nya..
Seorang atlet mendapat jaminan masa depan yg bagus dari negara mereka..
yah mungkin pemerintah gak punya uang